Hari ini, tanggal 9 Mei 2014 jam 04.00 WIB. Aku nggak bisa memejamkan mata. Semua yang belum pernah terpikirkan olehku sekarang perlahan berlari di otakku. Dinginnya udara malam menjelang pagi tak bisa mendinginkan hati ini. Kejujuran yang terderngar membuat seluruh badanku melemas. Suara tarikan nafasku beriringan dengan bacaan Al-Quran yang berkumandang di Masjid.
Aku memikirkan sesuatu yang harus terpikir sejak lama. Posisi sebagai pengangguran membuatku dirundung berbagai masalah. Banyak alasan ketika aku menolak untuk bekerja. Entah apa yang ada dibenakku saat itu, aku terlalu idealis atau egois. Aku menganggap ketika aku bekerja banyak sekali orang yang mau menjatuhkan aku. Tapi akhir-akhir ini aku berpikir kalau aku hanya takut untuk meninggalkan zona nyamanku. Pernah bekerja di 3 tempat yang berbeda belum bisa membuatku mengerti arti dari kehidupan. Keegoisan masa kuliah masih membelengguku, menggandeng tanganku dengan angkuhnya. Menatap masa depan yang belum tentu itu adalah yang paling bersinar.
Pengangguran adalah gelarku saat ini setelah menyelesikan kuliah di tahun 2012. Sebenarnya aku cukup beruntung mempunyai kekasih yang mau menerima aku apa adanya. Tapi belakangan ini sikap itu berubah. Berubah karena bosan melihat rutinitasku yang cuma begitu-begitu saja setiap harinya. Bosan melihat aku menatap komputer sangat lama tanpa mencari Info Lowongan Kerja. Bosan dengan semua alibiku untuk menolak bekerja. Bosan menutupi kekuranganku di depan semua teman-temannya. Sekarang, raganya memang sangat dekat denganku, tapi aku nggak yakin kalau hatinya masih dekat denganku. Semua kejujuran yang dia ucapkan sangat merobek hatiku ini. Tak bisa aku berbuat apa-apa, karena aku tak punya kuasa, aku tak berdaya, aku lelaki tak berguna. Hati ini seperti disayat dengan silet berkarat yang perihnya selalu terasa. "Kamu tak bekerja" itu alasan yang selalu terlontar dari mulutnya ketika mengungkapkan kejujurannya. Tapi kenapa selalu alasan itu untuk membenarkan kejujurannya. Apa tidak pernah memikirkan juga hatiku, hati yang akan terluka. Memang aku pengangguran, memang aku tak berpenghasilan, tapi apa itu alasan yang tepat saat dia mengucapkan kejujurannya.
Sekarang aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Dulu semasa kuliah, Alkohol adalah teman ketika aku terpuruk seperti ini. Segelas air putihlah yang menemaniku disaatku seperti ini. Pengangguran selalu di anggap tak berguna. Sebenarnya aku sangat takut untuk bekerja dengan orang lain dan alibiku adalah berwirausaha. Itupun tidak berjalan lancar, tidak sesuai rencana. Semua hancur berantakan, aku nggak bisa tegas dengan dia, aku takut menatap masa depanku, aku takut memejamkan mataku, aku takut kehilangan dia, aku takut dengan semua ketakutanku.